Dark Mode Light Mode

Gedung Wakil Rakyat Ambruk

RAKYAT Indonesia kembali diberi tontonan istimewa yang tidak bisa ditemukan di Netflix maupun Disney Plus. Sebuah ornamen megah di Gedung DPRD Pesawaran memutuskan untuk pensiun dini.

Ia memilih turun dari jabatan atap, langsung ke halaman, tanpa upacara, tanpa seremoni. Murni inisiatif pribadi. Atau mungkin karena lelah berdiri di atas gedung yang isinya sudah terlalu berat oleh beban janji.

Pemerintah setempat langsung sigap. Bukan menyelidiki kualitas bangunan, bukan mengecek kontraktor, bukan menelusuri detail anggaran.

Advertisement

Tapi langsung menunjuk cuaca sebagai biang keladi. Cuaca yang katanya ekstrem. Padahal saat itu, langit hanya sedikit mendung. Angin bertiup pelan seperti bisikan rakyat yang tak pernah sampai ke mikrofon dewan.

Publik pun berspekulasi. Bukan soal robohnya ornamen, tapi kecepatan reaksi yang luar biasa. Sekencang anggaran reses cair. Sekilat pernyataan resmi yang menyelamatkan muka.

Masyarakat diminta tenang, karena gedung akan diperbaiki. Tentu dengan biaya yang tidak kecil. Dan tentu tidak akan kecil juga kesempatan untuk foto bersama saat peresmian.

Ada yang bilang ornamen itu lelah. Selama ini ia diam, berdiri tegak mengawasi rapat-rapat kosong. Rapat yang lebih banyak bunyinya daripada hasilnya.

Wajar kalau akhirnya ia memilih jatuh. Itu tindakan simbolis. Mungkin semacam protes diam dari benda mati yang muak melihat rutinitas pura-pura sibuk.

Tapi jangan salahkan gedung. Salahkan angin. Karena angin tidak bisa bela diri. Tidak bisa klarifikasi. Tidak bisa beli pengacara. Ia jadi kambing hitam sempurna, seperti biasa. Dan ini pelajaran penting bagi rakyat.

Kalau suatu saat rumah kalian roboh, cukup bilang itu cuaca. Bukan karena bangunannya murah, atau tukangnya ngasal. Tapi karena alam sedang tidak ramah kepada rakyat kecil.

Dan kalau ada yang bertanya kenapa anggaran miliaran habis untuk bangunan yang roboh begitu cepat, jawaban paling mudah adalah ini.

Proyek itu sudah sesuai prosedur. Semua sudah lewat tahapan. Ada konsultasi. Ada gambar teknis. Ada dokumen pengadaan. Yang kurang mungkin cuma satu. Kejujuran.

Tapi tenang. Semua akan dibangun kembali. Bahkan mungkin lebih megah. Karena negara ini tidak pernah kekurangan semangat membangun. Hanya saja sering kekurangan fondasi akal sehat. (*)

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Endang Sudah Diamankan, BRI Masih Bungkam?

Next Post

Duit Rp11,12 Miliar Jalan-jalan?

Advertisement