DI Jakarta Bundaran Hotel Indonesia (HI) salah satu kolam legendaris berada di jantung Kota Metropolitan, selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengendara yang hanya bisa mengagumi saat melintas saja. Kedalamannya pun hanya sekitar 30-50 cm, dangkal, aman yang jelas bukan kolam renang dadakan.
Sementara di Kota Bandar Lampung, Bundaran HI versi lokal tampil beda. Dibalik sisi romantismenya, megahnya estetika bangunan, tapi melupakan aspek keselamatan. Kolam Tugu Pengantin yang menjadi ikonik Kota Tapis Berseri ini berubah jadi kolam kematian.
Senin, 26 Mei 2025 masyarakat Kota Bandarlampung di gegerkan penemuan mayat seorang bocah berusia 14 tahun. Terlihat mengambang oleh pengunjung saat berswafoto dari atas Jembatan Siger Milenial sekira pukul 15.10 WIB.
Tanpa adanya larangan dan peringatan. Bocah-bocah yang tak mengerti akan resiko kerap bermain di kolam HI versi lokal ini. Mereka tak menyadari jika kedalaman di bagian pinggir 60 cm, sementara di bagian tengah 120 cm, alias 1 meter 20 cm.
Heboh, sudah pasti heboh, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandarlampung Ahmad Nurizki Erwandi pun mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan tidak bermain-main di sekitar kolam di Tugu Pengantin.
“Ke depannya kami juga bakal pasang papan imbauan atau larangan agar masyarakat tidak mendekat ke area kolam, terutama anak-anak. Ini juga bagian dari antisipasi terhadap potensi kecelakaan atau kejadian serupa,” kata dia.
Sementara bocah malang ini dievakuasi oleh polisi dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek untuk dilakukan pemeriksaan medis lebih lanjut, termasuk identifikasi korban dan penyelidikan penyebab kematiannya.
Kapolsek Telukbetung Utara, AKP Martoyo, mengidentifikasi korban berinisial M.R (14), warga Kelurahan Pesawahan, Telukbetung Selatan. Berdasarkan rekaman CCTV di sekitar lokasi, korban terlihat bermain air dan berenang di kolam tersebut bersama seorang temannya pada Minggu sore 26 Mei 2025.
Dalam rekaman tersebut, korban tampak mengitari kolam, sementara temannya bermain di satu titik. Setelah korban tidak terlihat lagi, temannya sempat mencari namun tidak menemukannya dan akhirnya pulang.
Hasil pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan atau luka pada tubuh korban. Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan adanya aliran listrik di area kolam, AKP Martoyo memastikan bahwa tidak ditemukan arus listrik berbahaya di lokasi tersebut.
Tentu saja setelah peristiwa hingga merengggut nyawa seorang anak manusia, pemerintah kota tidak tinggal diam, bisa jadi papan larangan akan segera dipasang, air kolam di kuras, ditimbun, terus dibikin cetek kedalamannya.
Mungkin juga kalau banyak tanggapan miring di media sosial oleh warga BE, bisa jadi akan ada seremoni kecil-kecilan, lalu bilang, “Kami turut prihatin,”.
Oleh: Redaksi Gelitik.co