Dark Mode Light Mode

Gunarso TS, Legenda di Balik ‘Nah Ini Dia’ Pos Kota

Gunarso TS, penulis legendaris rubrik ‘Nah Ini Dia’ di Pos Kota, yang telah menghibur pembaca selama lebih dari empat dekade. (Foto: Vice.com)

BAGI para pembaca setia Pos Kota tentunya tidak asing dengan salah satu rubrik penulisan gaya nyeleneh ala Gunarso TS. Rubrik populer ini menggabungkan cerita yang berbau kriminal dibumbui dengan sentuhan urusan orang dewasa.

Nama Gunarso TS (66) selalu muncul dalam rubrik Nah Ini Dia Harian Pos Kota. Rubrik ini populer karena menggabungkan cerita kriminal dan perselingkuhan dengan bumbu seks kental. Saking lekatnya dengan urusan seks, teman-teman Gunarso TS memparodikan kepanjangan TS di belakang namanya menjadi Tukang Selingkuh!.

Si Tukang Selingkuh ini seharusnya menjadi guru agama. Dia menyelesaikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Kota Yogyakarta pada 1969. Bukannya mengajar ngaji, Gunarso muda malah sibuk berkarier di ruang redaksi.

Advertisement

Tercatat dia pernah menjadi penulis di beberapa media berbahasa Jawa seperti Mingguan Kembang Brayan Yogyakarta dan Redaktur Ariwarti Parikesit Solo. Gunarso kemudian berlabuh ke Pos Kota pada 1977 hingga menjadi redaktur pelaksana dan kini redaktur senior. “Senior itu artinya Senang Istri Orang,” ujarnya sambil tertawa.

Dikutip dari laman vice.com, Gunarso TS sudah empat puluh tahun berkarya di koran milik Harmoko, mantan Menteri Penerangan kesohor era Orde Baru. Sejak 1987 dia dipercaya menulis rubrik Nah Ini Dia. Rubrik yang masih eksis hingga saat ini awalnya dari unsur ketidaksengajaan.

Pada  Awal November 1987, Gunarso merupakan redaktur pelaksana untuk rubrik Singkat Daerah, isinya berita unik pendek, sekitar enam-tujuh baris. Suatu saat, dirinya pulang duluan dari kantor. Pas malam-malam, Pak Saiful (wakil pemimpin redaksi)  datang dan melihat rubrik Singkat Daerah.

Tiba-tiba dia langsung ganti namanya jadi, Nah Ini Dia.  Besok paginya dirinya membaca dan tanya ke teman-teman, “Lho kok nama Singkat Daerah jadi Nah Ini Dia. Siapa yang ganti?” Saat tahu Pak Saiful yang ganti, saya bilang ke dia.

“Pak, kalau namanya Nah Ini Dia mestinya berisi tulisan yang menggelitik dan lucu.” Dia balas, “Ya kamu tulis seperti itulah!” tulis VICE Indonesia saat mewawancarai sosok legenda Pos Kota Gunarso TS di bilangan Cipayung, Jakarta Timur pada 21 February 2017 beberapa tahun lalu.

Edisi berikutnya langsung dirinya mengganti gaya tulisannya. Ternyata respons pembaca bagus. Akhirnya sampai sekarang Nah Ini Dia terus ada.

Apakah cerita yang ditulis merupakan kejadian nyata atau fiksi? Jawabannya nyata. Lokasi seperti nama jalan dan kampung tetap sesuai aslinya, hanya RT/RW yang dihilangkan.

Sumber inspirasi mengambil kisahnya pun diambil dari koran-koran daerah. Di akhir tulisan selalu ditulis sumbernya. Misal, inisial SM berarti diambil dari Suara Merdeka. Kalau dari internet, seperti detik.com ditulis DC.

“Saya juga cari dari website-website yang tepercaya. Saya tidak berani mengambil dari sembarang website karena takutnya hoax,” jelasnya.

Nama dalam tokoh Nah Ini Dia pun disamarkan, dulu sempat menggunakan nama asli, akhirnya disamarkan. Nah, ini dia, yang membuat seru edisi yang nyeleneh dari Pos Kota. Pos Kota sendiri pernah digugat sampai membayar Rp 7,5 juta pada tahun 90-an oleh si pemilik nama. Berangkat dari situ, tokohnya menggunakan nama samaran.

“Malah sekarang, misalnya saya tidak senang dengan Fadli Zon, saya bagi dua saja nama tokohnya. Satu tokoh namanya Fadli, satu lagi namanya Zonk. Kadang saya juga pakai Fahri Hamzah, jadi tokohnya Fahri dan Hamzah,” ujarnya.

Kejadian pun harus benar-benar aktual, yang diambil dari yang sudah tayang di media. Biasanya Ucha (ilustrator Nah Ini Dia-red) mengirimkan bahan cerita untuk satu minggu kemudian di pilih-pilih.

Sejak dulu penulis Nah Ini Dia cuma belum tergantikan, Gunarso sendiri yang menulis, tidak ada yang lain. Sebenarnya banyak teman yang mau menggantikan tapi sampai sekarang bos-bos Pos Kota tetap percaya pada dirinya.

“Saya baru diganti kalau sedang sakit, tapi pembaca biasanya tahu kalau yang menulis bukan saya,” ujarnya.

Penyajian berita kriminal kota, Nah Ini Dia untuk semata-mata ditujukan agar pembaca refreshing dengan menurunkan tensi pembaca. Idiom yang saya pakai juga tidak melulu Bahasa Jawa. setting kejadiannya. Kalau Tempat Kejadian Perkara-nya (TKP) daerah Sunda, dirinya tanya kepada orang Sunda untuk referensi dialog ceritanya.

Nah Ini Dia berawal berisi berita-berita unik. Lalu dirinya coba memasukkan yang berbau-bau seks, ternyata responnya lebih banyak. Akhirnya bikin terus sampai berhasil pindah ke halaman satu di tahun 90-an. Dulu satu edisi isinya tiga cerita, akhirnya diubah jadi satu cerita tapi panjang.

Dari mana Inspirasi menulis Nah Ini Dia dapat, ternyata Gunarso mengamati problema rumah tangga di Indonesia, pasti ada orang yang selingkuh. Dirinya tak khawatir kekurangan bahann. Kadang-kadang kalau datanya miskin dirinya coba analisa lagi.

“Misalnya, kalau perempuannya tua, laki-lakinya berondong, biasanya perkara ekonomi. Jadi saya olah seperti itu, saya bumbuin ceritanya,” jawabnya.

Isu yang biasa diselipkan Nah Ini Dia pun beragam, bisa lari ke politik atau ekonomi. Waktu reformasi, Amien Rais menjegal Megawati pakai istilah Poros Tengah. Lalu dirinya bikin poros tengah itu artinya barang (wanita) di tengah. Jadi kalau urusan poros tengah laki-laki bakal semangat. Dirinyalah yang mempopulerkan istilah urusan poros tengah.

Meski nakal, Gunarso tahu batasan etika, seperti tak memuat detail pornografis dan menghormati regulasi UU Pornografi. Dirinya sadar diri, dengan membatasi  adegan porno tidak gambarkan secara detail. hanya menulis hubungan intim, tidak perlu sampai dijelaskan mendesah-desah atau berlendir.

Poskota pernah survei pada tahun 90-an. Survei itu bilang, Poskota punya dua rubrik unggulan yang ratingnya tinggi. Nah Ini Dia dan Doyok. (Survei ini dilakukan oleh Litbang Grup Pos Kota pada tahun 1992-red)

Pemilik koran Pos Kota, Pak Harmoko pernah bilang teori jurnalistik itu, Darah dan sperma. Makanya berita pembunuhan dan seks banyak pembacanya.

Meski koran orde baru milik Meteri penerangan jaman orde baru, saat itu Pos Kota tidak berani menyentuh Soeharto. Sekarang dirinya sering pakai istilah, Senyum mesam-mesem kayak Pak Harto.

Dirinya pun merasa kebebasan pers saat ordr baru dikekang,  pada tahun 90-an, saat dirinya menjadi  redaktur edisi Surabaya, ada artikel menulis, “Pak Harto pernah ke tempat keramat anu.” Tulisan itu lolos karena dirinya kurang teliti. Saat pemimpin redaksi lihat, dia langsung minta mesin cetak disetop. Padahal saat itu kita sudah cetak 50 ribu eksemplar koran.

Dari banyaknya orang yang membaca sampai puluhan tahun berlalu, anaknya yang kuliah di Sastra Inggris, di salah satu bahan studinya pernah bahas soal Nah Ini Dia. Saat itu dalam batinnya dia bilang, Ini tulisan bapak saya. Tapi dia tidak mau ngaku, malu.

“Anak dan istri saya memang tidak pernah baca karya bapaknya,” ujarnya.

Jika selain dirinya yang mampu menulis dengan gaya nyeleneh, menurut dirinya hanya ada satu orang yang mampu, mungkin Butet Kartaredjasa. “Dia kan orangnya humoris,” jawabnya singkat.

Gunarso tak merasa bosan ataupun jenuh menulis tentang cerita yang telah membesarkan namanya di dunia jurnalistik, bahkan ketika ditanya sampai kapan akan menulis Nah Ini Dia. “Sampai pembaca bosan sama saya,” jawabnya sambil menutup percakapan.

Seharusnya dia sudah pensiun 2007 lalu, tetapi kemampuannya mengolah urusan begituan ternyata belum bisa tergantikan. Rubrik di pojok kanan bawah Pos Kota itu telah mengantarkan namanya menjadi legenda.

Gunarso tak hanya piawai mengisahkan kasus selingkuh yang penuh intrik, dia pun lihai mengomentari sengkarut ekonomi politik. Coba simak cuplikan tulisannya berikut ini. Belakangan ini, asal melihat Nuryuanti, ukuran celana Pak Guru langsung berubah, dari L menjadi XL. Lalu otaknya pun berpikiran ngeres.

Sampai hari ini, belum ada yang bisa menulis cerita urusan poros tengah seberani dan sejenaka Gunarso TS. Mungkin karena cuma dia yang bisa menertawakan tragedi sambil tetap membuat pembaca tersipu malu senyam-senyum sendiri. (Vice)

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Ketika Kritik Tidak Lagi Harus Berteriak

Next Post

Penghapusan Uang Komite, Kelegaan Ribuan Orang Tua

Advertisement