Dark Mode Light Mode

Ketika Kritik Tidak Lagi Harus Berteriak

Ilustrasi (Ist)

SAAT Orde Baru, kebebasan berekspresi adalah barang langka. Kritik nyaris mustahil ditulis secara terbuka, apalagi disebarluaskan. Namun seperti air yang selalu mencari celah, suara-suara kecil tetap mengalir di balik arus utama.

Muncullah koran-koran jalanan seperti Pos Kota, Lampu Merah, Majalah Misteri, yang menjadi cikal bakal media tergolong berani, menyuarakan keresahan rakyat dengan cara nyeleneh dan tak biasa.

Lampu Merah bahkan dikenal sebagai salah satu koran kuning paling fenomenal di Indonesia. Kini, berubah menjadi Lampu Hijau.

Advertisement

Dulu, penulis pernah membaca di suatu artikel. Salah satu Pejabat juga menikmati sajian majalah Misteri. Mungkin sangking malu nya takut diketahui orang lain. Majalah yang isinya bercerita tentang dunia mistis, digulung agar tak terlihat covernya yang bombastis.

Tujuan sajian mereka yang nyeleneh atau kisah klenik, merupakan ruang tersamar untuk menyampaikan kritik sosial. Simbol, sindiran, dan metafora menjadi jalan keluar saat lidah harus dikunci.

Lalu datang reformasi. Pintu-pintu mulai terbuka. Tak hanya politik yang berubah, budaya pun meledak. Termasuk dalam dunia musik. Yang dulu hanya berdentum diam-diam, kini naik ke panggung terbuka secara terang-terangan. Band-band underground mulai unjuk gigi.

Kompilasi Metallik Klinik 1 yang digagas oleh Irvan Sembiring (almarhum), gitaris band Rotor, dan Krisna J. Sadrach (almarhum), basis sekaligus vokalis Suckerhead, menjadi tonggak penting.

Mereka berhasil meyakinkan Musica Studios untuk merilis album ini pada tahun 1996, membawa musik cadas dari lorong gelap menuju telinga publik, dengan kualitas suara jernih khas label mayor, namun tetap mengusung semangat underground yang merdeka.

Sebelumnya, para band-band metal merilis karya secara mandiri (Indie Label), bermodal semangat dari dompet sendiri. Mendistribusikannya sendiri, mereka tampil di panggung kecil, namun menyuarakan keresahan besar yang tak tersampaikan lewat lagu-lagu pop arus utama.

Meski berada di luar arus besar, musik underground ternyata memiliki segmen pasar sendiri. Ada pendengarnya. Ada yang menunggu dan merayakan suara-suara berbeda ini.

Begitu pula dengan tulisan yang menyampaikan kritik melalui gaya jenaka. Barangkali tidak semua orang menyukainya. Tapi selalu ada pembaca yang diam-diam mencari cara untuk tertawa sambil berpikir.

Lantas apa hubungannya dengan media?

Banyak. Karena sajian media dengan balutan humor sejatinya adalah bentuk lain dari musik keras. Tapi ia tidak berteriak, melainkan ditulis. Menggelitik, bukan menghardik. Seperti musik metal, balutannya juga bicara soal kegelisahan, kemuakan, dan kenyataan yang tak bisa diubah hanya dengan narasi formal.

Ketika narasi resmi terlalu indah untuk dipercaya, Gelitik.co hadir. Media ini lahir bukan dari ruang redaksi yang mewah, tapi dari kegelisahan. Terutama penulis yang juga menjadi saksinya.

Gelitik.co hadir menyampaikan apa adanya, hanya dibungkus sedikit unsur humor dengan gaya jenaka. Menertawakan hal-hal yang dianggap biasa. Itu saja!.

Sindiran dengan gaya humor memang bukan barang baru. Tapi bentuknya bisa berbeda-beda. Di atas panggung, kita menyebutnya stand up comedy.

Di sana, komika pun berani bersuara. Pegangan mereka hanya satu, kebebasan berekspresi. Hingga kini, panggung itu tetap hidup.

Muncul nama-nama seperti Heri Horeh, Bintang Emon, Pandji Pragiwaksono, Gilang Bhaskara, Coki Pardede, Tretan Muslim, hingga Adriano Qalbi, mereka menyampaikan kritik sosial dan keresahan generasi muda, tak jarang menyentil kekuasaan, tanpa kehilangan unsur komedi yang cerdas.

Dulu kita punya Metallik Klinik yang bersuara lewat dentuman gitar dengan nada yang tak enak di dengar oleh kuping awam. Sekarang hadir Gelitik.co, dengan nama dan format berbeda, tapi semangatnya sama, berbicara lewat tulisan yang tak berteriak.

Panjang jika di jelaskan dari berbagai sisi. Penulis hanya menjelaskan apa yang keluar dari hati, dan pikiran, menjadi sebuah tulisan. Wassalam. (Redaksi)

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Implan Dua Batang, Duit Miliaran Melayang

Next Post

Gunarso TS, Legenda di Balik ‘Nah Ini Dia’ Pos Kota

Advertisement