Salah satu kampus negeri berstatus Negeri di Lampung, mendadak mirip marketplace, cuci gudang, buka diskon besar-besaran untuk Uang Kuliah Tunggal (UKT) siapa cepat, dia dapat. Berharap dapet potongan, eh malah di boongin sama oknum. Astaghfirullahaladzim.
Kampus jadi tempat cuci gudang diskon, satu-satunya yang rugi ya mahasiswa! Sistem UKT yang seharusnya membantu mahasiswa, malah jadi ladang bisnis buat oknum yang bisa jual beli diskon.
Kabar ini terungkap setelah delapan mahasiswa melapor ke Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Lampung, mengungkapkan pengalaman mereka yang melibatkan transaksi yang tidak seharusnya terjadi di lingkungan pendidikan.
Tentu saja, pernyataan ini tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar, jika pengurangan UKT bisa dipermudah dengan cara seperti itu, bagaimana dengan keadilan bagi mahasiswa lain yang tidak tahu menahu?
Ketua DPC Permahi Lampung, Tri Ramadona, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa mungkin masih banyak mahasiswa yang belum berani melapor atau bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang dirugikan. Ini menunjukkan dua hal yang sangat mencolok.
Pertama, sistem keuangan yang bisa dibilang cukup rumit dan penuh celah. Dan kedua, tingginya UKT yang menjadi celah bagi oknum-oknum tersebut untuk memanfaatkan ketidakpahaman mahasiswa. Inilah yang menjadi masalah mendasar dalam sistem pendidikan kita, celah-celah yang memungkinkan ada permainan uang di balik layar.
Namun, lebih dari itu, kasus ini juga mengingatkan kita pada fenomena lain yang cukup sering muncul, terutama di kalangan mahasiswa yang sedang terjebak dalam lingkaran harapan. Ya, seperti berharap sama gebetan baru, ternyata keluar kata-kata pamungkas, “Maaf, kamu sudah aku anggap kakak sendiri” Duarr!!.
Tapi ini baru permulaan, karena bicara soal UKT, kita nggak bisa lepas dari fenomena diskon UKT yang seakan jadi bagian dari cuci gudang’ pendidikan. Pernah dengar? Diskon yang muncul entah dari mana, di saat yang tepat.
Kalau kamu mau nunggu promo, ya siap-siap aja kecewa, karena nggak ada jaminan. Mungkin, yang lebih aneh lagi, adalah mahasiswa yang pintar. Bukan pintar dalam artian cerdas secara akademik, tapi pintar dalam artian “dipintarin” alias jadi korban dari permainan yang lebih jago!
Ini nih, yang bikin miris. Ada mahasiswa yang sudah tahu tentang sistem UKT, sudah paham bahwa uang kuliah itu untuk pendidikan, bukan untuk menjadi alat eksploitasi. Tapi begitu ada celah, langsung deh, ikut terjebak.
Jadi, teman-teman mahasiswa, jangan sampai kamu terjebak dalam jalan pintas yang bikin kuliahmu lebih mahal dari yang seharusnya. Apalagi kalau ada oknum yang ngasih jalan belakang. Ingat penyesalan datangnya belakangan. kecuali satu yang datangnya duluan, Di Sruduk kambing. Nyeselnye duluan”?? (*)
Note: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak ditujukan untuk menuduh pihak tertentu.