Dark Mode Light Mode
Suami Nekat, Istri Hebat
Bandwidth Selangit, Sinyal Merana
Nginjak Kodok

Bandwidth Selangit, Sinyal Merana

SEPANDAI-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Setinggi-tingginya Bangau terbang akhirnya jadi Kecap juga. Begitulah kira-kira istilah pribahasa pada opening tulisan ini!

Di saat rakyat pusing mikirin WiFi rumah yang bakal diputus karena belum bayar tagihan berlangganan, atau ayah-ayah yang tiap minggu harus jadi sponsor utama membeli voucher kuota anaknya, ada satu dunia paralel bernama Universitas Negeri Lampung (UNILA) yang justru sedang menikmati life in the fast lane.

Kali ini Unila berhasil menyulap anggaran Rp5,6 miliar hanya untuk langganan bandwidth I dan II. Iya, kamu nggak salah baca. Lima koma enam miliar, Bro. Itu kalau dikonversi, bisa jadi voucher kuota buat semua warga Lampung, termasuk mantan yang udah ganti nomor.

Advertisement

Unila sendiri bukan sosok baru dalam sorotan. Masih hangat dalam ingatan publik, kasus suap penerimaan mahasiswa baru oleh mantan rektornya, Prof. Karomani, yang ditangani KPK pada 2022 silam. Maka wajar jika publik kini lebih awas membaca setiap alokasi anggaran.

Dan hal ini bukan semacam kejutan spesial atau keajaiban tahunan. Tahun sebelumnya, 2024, plot-nya masih sama, angkanya masih konsisten, Rp2,8 miliar per paket, dua biji. Seolah-olah ada tradisi sakral, kalau bukan Rp2,8 miliar, nanti WiFi-nya mogok moge (mood gemeter).

Mundur ke anggaran tahun 2023, mereka rada kreatif, anggarannya Rp4,6 miliar, tapi disatukan aja sekalian, kayak paket hemat tapi tetap mahal. Kreatifitasnya bukan di solusi, tapi di cara belanja. Luar biasa.

Yang tragis, tergantung kita lihat dari berbagai arah sundut pandang, ketika mahasiswa justru jadi pasukan pahlawan kuota pribadi. Mereka lebih percaya pada BTS (bukan boyband ya, tapi Base Transceiver Station) swasta, ketimbang jaringan kampus. Meski keadaannya kayak percaya sama cewek toxic yang bilang “aku baik kok sekarang”, padahal besoknya nge-read doang.

Di sini, bukan cuma otak yang dilatih, tapi juga ketahanan mental. Soalnya, bagi mahasiswa Unila, kuliah bukan tentang materi, tapi tentang kesabaran level dewa dan keterampilan bertahan hidup di dunia maya yang penuh cobaan.

Karena kuliah online itu kayak nagih utang ke orang yang malah galak sama kita. Kita yang nunggu lama, dia yang malah ngilang, terus pas ditanya, jawabannya: “Sabar napah, tar juga gw bayar,?”

Nah, yang paling bikin dada sesak adalah ketika ditanya, pihak kampus jawab santai kayak lagi ngobrol di warung kopi, “Dari mana datanya Rp5,6 miliar cuma buat WiFi?”.

Seketika kita jadi detektif dadakan. Lah, bukannya ini data resmi? Atau kita yang salah karena bisa membaca, dan menerawang lebih jauh anggaran belanja kebutuhan kampus tercinta?.

Mungkin, uang segitu bukan buat internet biasa. Bisa jadi buat WiFi interdimensional. Sinyalnya nggak lemot dia emang invisible. Hanya bisa ditangkap oleh mereka yang tercerahkan atau sudah level menembus langit ke tujuh.

Pertanyaannya sederhana, kalau Rp5,6 miliar bisa lari tanpa jejak, gimana kabar anggaran yang lebih mistis? Apakah dia juga berlari? Atau malah terbang?.

Kita semua tahu, bandwidth itu memang mahal. Tapi kalau mahalnya konsisten, dan kualitasnya juga konsisten menyedihkan, mungkin yang perlu diganti bukan kabel fiber optic, tapi kabel moralitas.

Semoga suatu hari nanti, kecepatan internet kampus bisa ngalahin kecepatan admin pinjol yang rajin ngingetin utang sebelum jatuh tempo!.

Sekedar diketahui, eitss ini tulisan rada serius ya, nggak cengar-cengir sendirian lagi!. Bandwidth adalah kapasitas maksimum jalur komunikasi internet untuk mengirimkan data dalam satu waktu, biasanya diukur dalam Mbps (Megabit per detik) atau Gbps (Gigabit per detik). Semakin besar bandwidth, semakin banyak data yang bisa dikirim secara bersamaan.

Kondisi di Universitas Lampung (Unila) memiliki jaringan internet kampus (Intranet dan Internet) yang dilayani melalui koneksi WiFi di berbagai titik, seperti di sekretariat, ruang kelas, perpustakaan, gedung fakultas, dan taman. Namun, banyak mahasiswa mengeluhkan jaringan Wi-Fi yang sering lambat atau tidak stabil.

Mengapa WiFi di Unila bisa lemot, karena kapasitas bandwidth terbatas, jumlah mahasiswa aktif di Unila mencapai puluhan ribu. Jika bandwidth yang tersedia tidak cukup besar untuk menampung semua pengguna aktif secara bersamaan, kecepatan internet akan terbagi dan terasa lambat.

Selain itu, penggunaan yang tidak teratur, banyak yang mengakses platform berat seperti YouTube, Zoom, Google Drive, atau mengunduh file besar tanpa manajemen bandwidth. Tanpa sistem pembatasan (bandwidth management), pengguna dengan aktivitas berat akan menyedot kapasitas internet dan mengganggu pengguna lain.

Jumlah Access point (pemancar WiFi) tidak merata di beberapa area kampus mungkin kurang atau tidak optimal penempatannya, sehingga sinyal lemah dan koneksi terganggu.

Kemungkinan, perangkat lama atau gangguan teknis infrastruktur jaringan seperti router, switch, atau access point yang sudah usang atau rusak bisa mempengaruhi performa jaringan.

Selain itu, Waktu Sibuk (Peak Time) saat jam-jam padat, seperti pukul 09.00-15.00 WIB, banyak pengguna mengakses jaringan secara bersamaan. Ini menyebabkan lonjakan trafik dan memperlambat koneksi. (*)

Oleh: A. Rosid

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Suami Nekat, Istri Hebat

Next Post

Nginjak Kodok

Advertisement