Dark Mode Light Mode
Penghapusan Uang Komite, Kelegaan Ribuan Orang Tua
Ketika Kabel Dicabut, Harga Diri Diuji, Insiden Power Metal vs Testament di Kukar Rockin Fest 2014
Kalau Bukan Pengacara, Siapa Lagi yang Bisa Didengar?

Ketika Kabel Dicabut, Harga Diri Diuji, Insiden Power Metal vs Testament di Kukar Rockin Fest 2014

SEBELAS tahun lalu, di tanah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, gaung festival musik cadas Kukar Rockin Fest 2014 menggema keras. Dari seberang benua, band Testament asal Berkeley, California, Amerika Serikat, datang membawa amunisi thrash metal. Di panggung yang sama, mereka bersitegang dengan legenda lokal, Power Metal, dalam satu event besar yang tak terlupakan.

Seharusnya, kehadiran Testament menjadi hajatan agung bagi para pemuja riff tajam dan jeritan distorsi. Namun malam itu, konser yang dijanjikan sebagai ajang persaudaraan musisi lokal dan internasional, justru berubah menjadi kontroversi terbuka. Penyebabnya? insiden bermula ketika Power Metal sedang membakar panggung dengan lagu-lagu lawas mereka yang melegenda. Namun tanpa aba-aba, kabel instrumen mereka tiba-tiba dicabut oleh kru asing bagian dari tim produksi Testament.

Bahkan, sebagaimana terekam dalam unggahan video penonton di YouTube (akun Rocker Kutai), Chuck Billy, vokalis Testament, ikut naik ke panggung dan menghentikan penampilan Power Metal.

Advertisement

Banyak saksi mata menyebut para kru membawa peralatan Testament sambil menyingkirkan perlengkapan Power Metal secara kasar. Dalam forum Metalheads Indonesia di Facebook, seorang penonton bernama Oky Wibowo menulis, “Kami pikir itu bagian dari gimmick. Ternyata mereka benar-benar memaksa Power Metal berhenti. Gak sopan banget.”

Alasan Testament Mengejar Pesawat

Tak lama setelah insiden menyebar, pihak Testament mengunggah klarifikasi melalui halaman resmi Facebook mereka pada 10 Juni 2014. Dalam pernyataan itu, mereka menyebut harus tampil lebih awal karena harus mengejar penerbangan malam ke Jakarta untuk jadwal tur selanjutnya.

“Kami tidak berniat menyinggung siapa pun. Kami hanya diberitahu bahwa waktu tampil kami sangat terbatas, dan kami harus segera ke bandara setelah tampil,” tulis mereka.

Namun alasan ini tak diterima sepenuhnya oleh penonton maupun komunitas metal lokal. Forum metal Busuk Webzine menyebut bahwa jika waktu terbatas, Testament seharusnya memotong durasi set mereka bukan merampas panggung band lokal yang sedang tampil.

Penonton Duduk Saat Testament Manggung

Sikap Testament dan krunya memicu gelombang protes diam. Saat Testament akhirnya naik panggung, ribuan penonton justru memilih duduk. Sebuah dokumentasi video dari kanal YouTube Zulkarnain Visual menunjukkan kerumunan yang sebelumnya menggila, kini hening dan duduk diam selama Testament tampil.

“Penonton di Kukar mengajarkan pelajaran besar malam itu, bahwa menghormati musisi lokal bukan opsional,” tulis Komunitas Musik Kalimantan dalam siaran pers mereka tiga hari setelah acara.

Power Metal Dipanggil Kembali, Penonton Berdiri Lagi

Sadar situasi makin panas dan respons penonton membeku, panitia akhirnya memanggil kembali Power Metal ke panggung setelah Testament selesai tampil. Momen ini menjadi titik balik emosi malam itu. Begitu Power Metal memainkan intro lagu “Satu Jiwa”, ribuan penonton serentak berdiri, mengangkat tangan, dan menyanyikan lirik demi lirik dengan penuh semangat.

Rekaman momen tersebut viral di media sosial. Dalam kolom komentar YouTube, seorang penonton menulis, “Begitu Power Metal main lagi, suasananya pecah. Rasanya kayak kami balas dendam pakai semangat.”

Lebih dari Sekadar Salah Paham Teknis

Insiden di Kukar Rockin Fest bukan sekadar masalah teknis atau miskomunikasi. Ia menjadi simbol penting tentang etika, penghormatan terhadap musisi lokal, dan kesadaran bahwa nama besar bukanlah izin untuk semena-mena.

Seperti yang ditulis kolumnis musik Ardi Hermawan di blog Rocknesia, “Testament mungkin besar di luar negeri. Tapi di Kukar malam itu, Power Metal-lah yang pulang sebagai pemenang.”

Dalam budaya musik metal yang menjunjung loyalitas dan solidaritas, insiden seperti ini adalah luka. Tapi malam itu, dari panggung Kukar, Power Metal dan penonton Indonesia menunjukkan satu hal: kebanggaan tidak datang dari amplop dolar, tapi dari harga diri yang tak bisa dicabut bahkan oleh kabel mana pun. (*)

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Penghapusan Uang Komite, Kelegaan Ribuan Orang Tua

Next Post

Kalau Bukan Pengacara, Siapa Lagi yang Bisa Didengar?

Advertisement